Senandung Ma’badong dalam upacara Rambu Solo Toraja.

Rambu Solo Toraja | Bak parade sebuah karnaval budaya, barisan berikutnya diikuti oleh barisan pembawa kerbau, kerbau di Tana Toraja di kenal dengan sebutan Tedong. Pelan namun pasti kerbau-kerbau ini berjalan pelan di arena jalan tanah dikelilingi puluhan tongkonan.

Kini semua mata tertuju pada mereka. Montok, sehat dan tegap begitulah tampilan kerbau-kerbau hitam dalam upacara ini, sebuah tedong bule (bonga) berjalan paling depan, karena tedong bonga inilah persembahan tertinggi nilainya, kerbau persembahan lambang kemakmuran, adat dan kebanggan bagi sang tamu dan penyelenggara upacara.

Senandung Ma’badong dalam upacara Rambu Solo Toraja - raiyani
Upacara Rambu Solo Toraja

Bukan sebuah nominal kecil, 20 juta rupiah minimal harga seekor tedong biasa, dan mencapai 650 juta untuk sebuah tedong bonga (tedong albino/tedong bule), sungguh angka yang fantastis bukan bagi yang belum mengenal “nilai” sebuah upacara adat.

Tapi inilah Toraja, sebuah Tana leluhur yang masih memegang adat sebagai sebuah bagian dalam kehidupan manusia. “Orang Toraja lebih meriah dalam kematian di banding pernikahan “ itulah kalimat tepat bagi siapapun yang menyaksikan rangkaian upacara Rambu Solo.

Seekor rusa terpancang di sepotong kayu tinggi di tengah lapangan, barisan para tamu berjalan perlahan dengan topi caping anyaman bambu, dua untai tali berwarna merah terjulur dari balik caping, para perempuan Toraja dengan pakaian hitam dan sarung hitam khas Toraja, berjalan melewati tongkonan demi tongkonan yang sudah di padati para keluarga. Di bagian belakang diikuit pula barisan pria yang juga berpakaian hitam.

Alunan suara ketua adat berbahasa Toraja mengalun keras dari sound system. Saya kurang faham detail artinya, namun saya bisa merasakan aura ucapan selamat datang, dan sambutan bagi para tamu, serta ungkapan rasa terimakasih pada seluruh keluarga yang telah menghadiri upacara adat.

Senandung Ma badong dalam upacara Rambu Solo Toraja - raiyani
Senandung Ma’badong dalam upacara Rambu Solo Toraja

Ma’badong adalah sebagai salah satu rangkaian dari upacara Rambu Solo, lantunan senandung duka cita, menghantarkan arwah almarhum beristirahat tenang di tempat barunya, serta menghibur keluarga yang dtinggalkan. Upacara dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan anak turun pada keluarga yang berduka.

Barisan tetamu wanita dengan topi caping khas Toraja mulai memasuki ruang khusus para tamu, duduk bersila, tenang dan hening, perlahan mengalun kata-kata sambutan dari pemimpin adat dalam bahasa Toraja. Tak lama berbaris 6 gadis Toraja berpakaian daerah, cantik dan unik, warna kuning bersemu orange dengan gelantungan roncean manik-manik nan indah, rambut rapi tersasak ke belakang, ikat kepala hitam juga beronce manik-manik melengkapi hiasan kepala para pelantun tembang.

Seorang ibu berdiri di belakang barisan sepertinya sebagai komando dalam lantunan nyanyian duka serta suka cita. Terlarut lerai saya dalam irama melunglaikan rasa. Walau saya tak begitu faham apa yang dilantunkan namun, irama dan naik turunnya lagu ini sudah meluruhkan segala arti.

Dari sisi lain rumah tongkonan barisan lelaki setengah baya, berseragam sarung hitam khas Toraja, berbaris memasuki area tengah lapangan, lantunkan irama bergema tak begitu jelas terbaca, mereka perlahan membentuk barisan setengah lingkaran, rusa tertambat kini telah dikelilingi oleh barisan lingkaran hitam para pendendang Ma’badong.

mabadong toraja south sulawesi
Ma’Badong Toraja South Sulawesi

Senandung Ma’badong akhirnya memabukkan alam fikiran saya untuk turut serta dalam bagian lingkaran yang semakin melebar. Deretan tangan yang terkait saya sentuh sebagai pertanda ingin masuk dalam lingkaran, senyum ramah bapak setengah baya mempersilakan saya masuk, tangan-tangan kamipun saling merangkai, kelingking saling disematkan. Walau terbata gagap saya berusaha mengikuti kalimat-kalimat yang mereka ucapkan.

Seketika Aura kebersamaan mengalir perlahan, gerakan bergeser selangkah demi langkah ke arah kanan, kelingking dikaitkan semakin erat, huruf vocal tanpa arti yang jelas melantun kembali, degub jantung saya semakin kencang, sebagai tanda membuncah senang bisa menjadi bagian dari upacara ini.

Cek juga : Wonderful Toraja

Merasakan sebuah bentuk kebersamaan dalam duka dan sekaligus ungkapan suka cita, dalam penghormatan keluarga terhadap orang tua, nenek/kakek yang telah tiada, pengabdian keluarga pada leluhur, adat dan gotong royong yang memperkaya rasa dan geliat budaya dalam tradisi Toraja yang tak lekang di makan waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *