Menanti Sunrise | Pagi hari yang dingin di Kota Wamena (1600mdpl) harus bergegas bangun jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan melihat matahari terbit (sunrise) di Danau Habema. Nama yang masih begitu asing tentunya bagi saya.

Udara pagi yang menusuk di Wamena, serasa ingin terus bercengkerama dengan selimut tebal. Namun Tekad dan semangat terus dikobarkan. “hey bangun, ini mungkin pertama dan terakhir kali aku bisa menyaksikan salju di puncak Gunung Trikora”.

salju di puncak trikora
Salju di Puncak Trikora
Melihat salju bagi saya adalah masih suatu mimpi, karena belum tercapai juga keinginan berkunjung ke negara empat musim. Serta merta cerita salju di puncak Jayawijaya Indonesia masih merupakan hal yang masih saja membuat penasaran terbesar walau ribuan foto tersebar di dunia maya membuktikannya.

Kalimat penuh semangat yang saya lantunkan berkali-kali dalam hati. Sehingga semua begitu lancar dan bergegas berkumpul bersama rombongan, dengan langkah masih kaku langsung masuk ke dalam mobil. Mobil yang digunakan pun khusus yang four wheel, karena konon kita akan melewati jalanan tanah berbatu.

Sudah terbayang akan medannya seperti apa. Mungkin lebih nyaman naik bajaj di Jakarta, walaupun bergetar namun tak mengguncang-guncang perut.

Ternyata benar dugaan saya, baru 15 menit kendaraan berjalan, kami sudah masuk ke kawasan tanpa aspal, diguncang prahara jalanan. Gelap gulita dan terhantam sana sini. Namun rasa kantuk masih saja menggelayut, sehingga mata terus ingin terpejam, karena tak ada hal lain yang bisa dilakukan saat itu, selain larut terninanbobokan sundulan dan getaran dari bebatuan jalanan.

Dua jam pasrah dalam goncangan, akhirnya usai dengan dingin semakin menusuk. Kendaraan melambat, suara deru mesin lenyap dan tiba-tiba hening, hari masih kelam. Apa yang bisa disaksikan disini? Melirik ke thermometer kendaraan. Woow 07 drajat celcius. Brrr, ini suhu terdingin yang saya rasakan selama traveling ke tempat dingin di beberapa tempat, mengalahkan puncak Rinjani, Puncak Gede bahkan Pananjakan di Bromo.

Saya tetap meringkuk di dalam mobil sambil pelan dan pasti mempersiapkan peralatan kamera, tangan nyaris kaku walaupun sarung tangan sudah dari awal melekat erat. Kuplukpun sudah diturunkan hingga menutup mulut dan hidung, jaket berlapis dua sudah dililitkan.

Dan oppsss saya pun dengan tekad kuat keluar dari pintu kendaraan dan wuzz angin dingin menerpa sekujur tubuh. Oh Tuhan berikan sedikit kehangatan sehingga aku bisa menikmati sang surya dari balik awan ini.

Tripod, kamera sudah terpasang, angin kencang terus saja menerpa, hujan rintik sudah mulai reda. Awan tebal kini terkikis oleh angina, Dan semburat jingga mulai menampakkan ronanya. Perlahan dan tak berkedip detik demi detik matahari menguak awan menggeser tabir dan mulai melirik, hingga akhirnya tersenyum dari balik bukit bukit angkuh itu.

Seraya berucap takjub, ya Tuhan betapa indah alammu, dan hamba bersyukur menjadi manusia yang kau beri kesempatan menyaksikan keindahan dunia tatkala tak semua memiliki kesempatan ini. Matapun enggan berkedip, hanya angin dingin yang memaksa saya untuk sejenak menutup semua mata, karena terasa perih dan kaku.

Kini tersaji di depan mata, diujung sana, di ketinggian 3300 mdpl saya berdiri ini, terpampang puncak tertinggi deretan daratan menjulang. Samar-samar rona putih mulai diterpa cahaya. Puncak Trikora itu ada saljunya. Sekali lagi decak kagum dan terpana. “Salju itu masih ada”.

Karena Berita pemanasan global yang mengabarkan semakin berkurangnya wilayah puncak Jayawijaya yang bersalju membuat prihatin, namun dengan menyaksikan pemandangan ini. Saya merasa lega, bahwa salju di puncak Trikora masih ada.

Puncak Trikora dan Danau habema
Puncak Trikora dan Danau habema

Berdasarkan referensi Wikipedia bahwa Puncak Trikora (4.730 mdpl) merupakan puncak urutan kedua tertinggi dari lima puncak pegunungan Jayawijaya yang masih ditutupi salju abadi, setelah Puncak Mandala 4.760 mdpl , urutan berikutnya yaitu Puncak Idenberg (4673 m dpl), Puncak Yamin (4535 mdpl) dan Puncak Cartenz (4400 mdpl) yang terbentang memanjang di tengah provinsi Papua Barat hingga Papua dan Papua Newguinea.

Zaman Penjajahan Belanda puncak Trikora ini dikenal dengan nama Wilhelminatop (Puncak Wilhelmina). Sedangkan danau Habema adalah danau yang berada pada ketinggian 3225 mdpl. Danau Habema, yang disebut Yuginopa oleh masyarakat lokal, luasnya mencapai 224,35 hektar dengan panjang keliling 9,79 kilometer. Puncak Trikora dan Danau Habema ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Lorentz.

Konon di bulan Juni adalah waktu terbaik menyaksikan puncak Trikora. Karena bertepatan dengan saya ke sana , sempat bertemu dengan fotografer asal jepang yang sudah bertahun-tahun wira wiri Habema, dia mengatakan baru kali itu mendapatkan pemandangan terindahnya.

Bersama semakin tingginya sang mentari menghangatkan tubuh, cuaca berangsur hangat, dan kebekuan 7 drajat kini sudah menjadi 15 derajat celcius. Sambil menikmati secangkir kopi dan mi instan saya terus berdecak kagum.

Salju di Puncak Trikora dan Indahnya Danau habema, keindahanmu tiada tara, dan ini di Indonesia kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *