Ketika Taji bertarung Tajen | tajen 01 - raiyani

Taji bertarung Tajen | Sala sala sala sala, samar-samar mendekati suara gemuruh, mencari asal dari suara riuh, disekeling hanya terlihat puluhan mobil dan ratusan sepeda motor di area parkir, suara apa itu? ada pertandingan sepakbola? dimana? bukankah sabung ayam yang ingin disaksikan? tapi dimana? mengapa begitu ramai disini, pertanyaan penuh tanda tanya terus saja menggelayut di benak, iya ..ini tempat sabung ayam, di sana mbak, di balik atap terpal biru, orange dan putih itu, disana sabung ayamnya, ujar made yg mengantar kami ke daerah Sukawati

Untungnya tak ada yg memotret wajahku dalam “keterplongoan” sesaat itu, begitu panjang huruf “o” yang keluar, tentu kalau di foto begitu tidak indahnya ekspresi itu

Tak sabar untuk segera menuju ke arena, tepat di pintu masuk dengan hiasan penjor nan apik yang dibuat secara sederhana, berdiri para lelaki dengan ikat kepala khas bali, lelaki separuh baya menghampiri, mau lihat ayam? tiketnya 15.000 ribu.

Ok, tanpa menunggu panjang lagi bergegas ku keluarkan uang lima belas ribu dari dalam dompet mungil nan lusuh, kebiasaan hidup di hutan belantara Jabodetabek, tetap saja rasa was was menyerangku, dompet, Hp bergegas kuselipkan kebagian tas kamera yang paling dalam, walaupun tetap ada keyakinan bahwa di Bali ini aman, karena mereka sangat mempercayai karma, bahwa yang berbuat jahat akan kembali kejahatan pada dirinya, tapi siapa yang tau? Ada orang-orang lain selain penduduk Bali di area ini, waspada itu lebih baik.

Tiket sabung ayam sudah di tangan, sambil menunggu teman-teman yang lain, aku pun memantau area perlahan, warung makan dengan sajian khas babi panggang berderet di sepanjang sisi kiri jalan, di sebelah kanan ramai juga para lelaki bermain domino, judi dan entah apalah lagi istilahnya yang kurang kupahami, klik klak klik … memotret apa saja yang bisa di foto, namun sudah tidak teralu konsen, karena di pikiran dan mata ini tertuju terus pada suara gemuruh di dalam sana.

Ada rasa ciut memasuki area ini sendirian, teman-teman yang ikut sudah tersebar entah kemana, tubuhku yang tidaklah cukup tinggi ini tentu menjadi terjepit di antara laki-laki gendut, tinggi, besar, kurus, hitam atau sawo matang.

Merasa beruntung bisa menyelip di antara ketiak-ketiak basah itu, hmm tak perdulilah, apapun aroma yang hinggap di hidungku, karena moment ini tak selalu kudapatkan di Bogor.

Ketika Taji bertarung Tajen | tajen 02 - raiyani

Dari kejauhan kulihat ayam-ayam aduan dipersiapkan, pisau perenggut nyawa satu persatu di tempelkan ke salah satu kaki ayam, para bebotoh (petaruh) memeluk erat ayam-ayam dalam dekapannya, sesekali mengelus elus ekor dan tubuh ayam dalam gendongan, sekumpulan lelaki lainnya sibuk mengeluarkan ayam ayam aduan dari keranjang, berakhirkah umur ayam-ayam itu hari ini?

Tong tong tong bunyi gong kembali terdengar, pertanda pertandingan akan segera di mulai, lelaki lelaki ini yang sedari tadi duduk sambil memegang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu di genggamannya, serempak berdiri, dan berteriak-teriak sambil mengacung ngacungkan lembaran rupiah di tangannya, sala sala sala, ucapan yang tidak begitu jelas kudengar, namun tubuhku terus terdorong ke depan, padahal di depanku ratusan lelaki berteriak juga.

Ookhh ambil posisi kuda-kuda, sambil erat menggenggam terus kamera di tangan kanan, dan tas kamera yang menempel di dada membuatku kehilangan keseimbangan, dan hup, benar tubuhku terdorong ke punggung lelaki di depan, ucapan minta maaf cepat meluncur dar bibirku, “kata maaf bli maaf bli”, untunglah dia memandang wajah memelasku dengan tenang dan kembali sibuk dengan lambaian rupiahnya, huff, lebih baik aku berpindah tempat mencari angle lain, sehingga aku tidak terus menerus menggunakan lensa panjang ini.

Berada di tengah arena itu sepertinya seru, rasa sok nekad dan berani mencuat hadir, oke perlahan melangkah ke arena di kanan, dan sempit sekali tak ada celah sedikitpun untuk masuk ke bawah, dan tiba tiba lelaki berbaju biru tua, sedikit gelap, dan dengan uang lima puluh ribuan di tangan berbicara padaku, “mau kemana?” Sambil menaik turunkan alis matanya, saya mau ke bawah. “boleh sampai bawah, sini lima puluh ribu, kamu bisa di depan ayam!” itulah kalimat terakhir yang mengejutkanku.

Hoooohhh wajah melongo yang kedua kembali tercipta di arena ini, mengeluarkan uang di ratusan lelaki ini oohhh tidaaakkk, bukan saja uangnya tapi juga lensa-lensaku, tetep saja yang kupikirkan adalah kamera dan kawan-kawannya.

Pergi menjauh dari dia adalah langkah pertama yang kulakukan, berbalik arah menju tempatku berdirii tadi, namun sudah penuh sesak, dan mengambi arah berputar ke sisi sebelahnya, tak juga ada tempat berdiri, walau hanya untuk meliukkan lensa kea rah sabung ayam itu.

“Ambil saja kursi mbak, manjat biar kelihatan!, seorang laki-laki memberi saran itu padaku, hmm ak juga ingin melakukan hal itu, tapi belum punya nyali untuk meminjam sat saja kursi salah satu penjual makanan disana, tapi lebih baik nekad daripada tak kebagian moment, mbak pinjem kursinya ya, buat manjat, segala bentuk senyuman dan keramahan kupersembahkan demi sebuah kursi panjatan itu.

Alhamdulillah di iyakan saja dalam bentuk anggukan oleh si penjual makanan, “suksma”, bergegas kuucapkan, dan mari memotret lagi, ternyata menggunakan kursi panjatan ini lain lagi tantangannya, terdorong sedikit saja, badanku sudah oleng, bergegas asa 1600 kunaikkan agar didapat kecepatan yang cukup mengimbangi goncangan tubuhku dan gerakan ayam-ayam petarung serta teriak-teriakan lelaki petarung.

Tes tes tes, peluh berkali-kali memasuki mata kiri, berganti ke mata kanan, perih!, suasana panas bukan saja oleh teriakan lelaki-lelaki ini, namun penuh sesak,dam teriknya matahari menambah berlipat kali panas yang kurasa, ditambah double pakaian yang kukenakan sejak dari ubud yang dingin, seolah menjadi salah costum, total menjadi basah kuyup, tak apalah demi moment ini kawan.

Berganti lensa wide, keinginan yang mudah namun sulit dilakukan, karena area yang sempit, sungguh tak rela apabila lensaku menggelinding ke arena sana, tas yang kugendong di depan, perlahan kubuka dan bertukar lensa, dengan cepat mengabadikan teriak-teriakan para lelaki.

Ketika Taji bertarung Tajen | tajen 03 - raiyani

Jadwal acara yang begitu padat, lebih memilihku mencukupkan memotret di area ini, lagipula udara di arena begitu menyengat, walau sudah menghabiskan 1 botol minuman, tetap masih merasa haus. Turun dari kursi, dan hooppss, kursiku pun seketika berganti pemilik lelaki berbadan tegap.

Made dan teman-teman ternyata sudah berkumpul di area parkir, lagi-lagi aku selalu menjadi pendatang terakhir, itu bukan sala sala sala, tapi gasal gasal gasal, artinya 50, dan ada dua kata juga yang dijadikan teriakan, namun kurang jelas, teriakan yang dilakukan sebagai tantangan melakukan taruhan, walaupun seluruh laki-laki ini berteriak hal yang sama, namun taruhan ini bisa juga dilakukan antara dua orang, tergantung kesepakatan siapa memgang ayam jagoannya

Apapun bentuk analisa dari Clifford Geertz tentang sabung ayam di bali, aku cukup dapat memahami, bahwa sabung ayam (tajen) di bali ini adalah bagian dari adat, bagian dari gaya hidup, pro dan kontra itu selalu ada, namun sabung ayam tetap menjadi bagian dari kehidupan laki-laki di Bali.

Ketika Taji bertarung Tajen | tajen 04 - raiyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *