Berburu Ombak Bono | Bisa berselancar di sungai ??? pertanyaan yang sangat membuncah bagi saya ketika ada tawaran berkunjung ke Pelalawan, … iyaaa, “benar.. ini ada ombak besar sekali sehingga bisa berselancar di sungai” begitu suara dari jauh terdengar melalui telepon genggam, hanya 5 menit perbincangan lewat telpon, namun efeknya lebih dari 5 menit benak saya dipenuhi tanda tanya, seperti apa, bagaimana, satu-satunya yang ada di Indonesia?

Ombak ini biasa di sebut seven ghost - DSC_1389
Ombak ini biasa di sebut seven ghost

Mengapa saya baru mengetahuinya saat ini?, fenomena alam luar biasa, fenomena unik, fenomena langka itu ada di sini.  Seketika sayapun sudah disibukkan dengan mesin pintar pencari berita, beberapa video berhasil saya temukan di media social,  betapa terperangahnya saya, ketika berita ini baru sekarang saya terima, sementara di video itu sudah sejak 2010 para turis asing sudah asik menikmati ombak sungai Kampar, oh Tuhan, ini luar biasa…

Seusai melihat beberapa video yang dikirim melalui telpon genggam, perbincangan dengan teman di Pelalawan saya lanjutkan melalui pesan singkat, baiklah saya terima tawaran menyaksikan ombak Bono.  Ya.. “ombak Bono”, terngiang-ngiang di telinga saya, nama yang tak asing lagi bagi masyarakat sungai Kampar, namun begitu asing di telinga saya, tapi tidak lagi mulai detik ini, minggu depan saya akan menyaksikan para peselancar itu menari-nari di atas ombak Bono, seperti yang saya saksikan di video media social di depan mata.

Meluncur dengan hempasan ombak, air berderu-deru, teriakan suka cita peselancar, hmmm fenomena setiap bulan yang selalu dinanti bak tamu istimewa di bentangan sungai Kampar, memecah keheningan, mengusik istirahat para unggas di pohon—pohon tepian sungai Kampar.

Sejarah penemuan Bono

Bono adalah nama yang dikenal sebagai tidal bore yang ada di Riau, ada juga Peroroca di Brazil, Benak di Malaysia, dan Severn Bore di Inggris. Berdasarkan pengamatan para peselancar, ombak Bono di Indonesia ini adalah urutan kedua terbesar setelah Peroroca di Brazil, hebat kaan?

Tahun 2008 peselancar Antony warga negara Perancis menemukan foto Bono Tidal Bore di internet yang diupload pada Program Konservasi harimau Sumatera tahun 2006, melihat foto yang terpampang tersebut, mengundang  keingintahuannya untuk mencoba  dan memeriksa kondisi lokasi serta kekuatan ombak bono untuk berselancar.

Baru pada bulan September tahun 2010 ia datang ke Indonesia dan melakukan uji coba selancar pertama kali. Sepanjang uji coba di dapatkan beberapa titik terbaik, ombak tertinggi yang pernah tercatat adalah 4m, dengan kecepatan berkisar 40-50 km/jam, dan uniknya ombak yang terbentuk sangat panjang dan terus terbentuk sepanjang hampir 26 km pada aliran sungai Kampar.

Sampai saat ini sudah ada sembilan rombongan peselancar mencoba bermain di ombak Bono, antara lain dari negara Perancis, Australia, Jerman, Brazil, Italia, Singapura, Afrika Selatan, Amerika dan juga tak ketinggalan para peselancar Indonesia.

Surfing di sungai DSC_1681
Surfing di sungai

Pekanbaru – Teluk Meranti

Perjalanan dari Jakarta menuju Pekanbaru hanya di tempuh selama 1 jam 40 menit, sesaat saja saya rasanya sudah tiba di bandara udara Sultan Syarif kasim II, tujuan berikutnya adalah Pangkalan Kerinci

Pangkalan kerinci, ibukota kabupaten Pelalawan, berjarak 70km dari Pekanbaru. Sebagai pusat Pemerintahan, Industri dan Perdagangan kota ini bisa ditempuh dengan berkendaraan selama 1.5 jam saja dengan kondisi semulus jalan tol.

Banyak hotel sederhana maupun hotel berkelas tersedia di kota ini, namun ada baiknya memilih di pusat kota, karena Pangkalan Kerinci terkenal juga dengan sajian kuliner khasnya, malam hari sangat ramai di sepanjang jalan Lintas Timur dengan aneka pilihan menu berbagai daerah, warung makan padang, pecel lele, masakan aceh, ataupun menu khas sempedas patin, maupun ikan salai tersaji sepanjang malam

Namun jangan kuatir, apabila tidak ada kendaraan pribadi menuju Pangkalan Kerinci, tempat ini bisa ditempuh dengan sangat mudah, dari bandara dilanjutkan dengan naik ojek ataupun taksi menuju daerah Simpang Raya, tempat mangkalnya colt, dan hanya dengan membayar Rp 20.000 saja kita sudah tiba di Pangkalan kerinci

Menuju Teluk Meranti

Lalu dimanakah kita bisa menjumpai sang Bono?, Bono bisa kita jumpai di Sungai Kampar yang masuk wilayah kelurahan Kuala Kampar, namun kita bisa bermalam di Teluk Meranti, dari Pangkalan Kerinci menuju Teluk Meranti bisa di tempuh dengan berbagai cara, bisa menggunakan travel dengan tarif Rp 70.000, bisa juga dengan menggunakan speed boat dari dermaga jembatan kualo, dengan tarif Rp 150.000.

Namun kali ini saya memilih menggunakan kendaraan pribadi, di kanan dan kiri pemandangan tak lepas dari berkilometer deretan kebun sawit, sesekali kita bisa menemukan pengolahan batu bata di tepi jalan, atau berpapasan dengan truk pengangkut kayu, karena daerah ini dikenal sebagai sumber pengolahan pulp.

Satu jam perjalanan dilewati dengan aspal mulus, perjalanan berikutnya dilalui dengan kondisi tanah tanpa aspal, sehingga jarak tempuh 100 km ini bisa membengkak menjadi 3-4 jam.

Tiba di Teluk Meranti sore hari, cukup padat dengan pemukiman penduduk, berada langsung berbatasan dengan sungai Kampar, suasana khas rumah panggung bangunan melayu, kantor Kelurahan, Puskesmas, TPA, saling  bersebelahan, di depannya halaman rumput luas dan halaman bersemen bergaris sebagai lapangan badminton, disampingnya lagi berdiri pula bangunan panggung sebagai bangunan serba guna berwarna kuning dengan bentuk ujung atap selembayung, selembayung ini ukiran berbentuk lebah begayut (lebah bergantung) khas rumah melayu di Pelalawan, dan hampir semua kantor pemerintahan menggunakan selembayung ini pada atapnya.

Pemukiman penduduk di teluk Meranti kini banyak di sulap menjadi penginapan sederhana, sebagai bentuk kesiapan masyarakat terhadap menyambut hadirnya para tamu yang datang menyaksikan Bono, karena sejak 2010 saat musim Bono dan hadirnya para peselancar, mengundang banyak keingintahuan masyarakat, hal ini menjadi daya tarik wisata tersendiri di daerah ini, para wisatawan dalam dan luar nageri berbondong-bondong ingin menyaksikan hadirnya peselancar yang bermain di Bono

Seven Ghost

Terbentuknya ombak ini dipengaruhi oleh pasang naik dan pasang surut, disebabkan oleh benturan tiga arus air, yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan aliran air sungai Kampar menimbulkan ombak besar dan menggulung, menghempas merentang hampir sepanjang 2km lebar sungai Kampar.

Bono ini dapat dilihat pada setiap bulan pada saat terjadi pasang naik, namun pada akhir tahun atau pada musim Barat, Bono terbentuk  lebih besar bisa mencapai ketinggian 6m, namun karena berjalan waktu disebabkan  bertambah melebarnya sungai Kampar serta diikuti pula oleh proses pendangkalan sungai, akibatnya sekarang sudah jarang ditemukan ombak Bono setinggi 6 m, paling tinggi saat ini hanya dalam kisaran 4 m

Seven Ghost adalah Istilah spontan yang diberikan oleh para peselancar yang bermain di ombak Bono, yang berasal dari legenda sungai Kampar zaman dahulu kala.  Yang konon dahulu ombak Bono di sungai Kampar adalah Bono Jantan sedangkan ombak Bono betinanya berada di sungai Rokan.

Bono di sungai Kampar dulunya berjumlah 7 (tujuh) ekor dan yang satunya ditembak oleh orang Belanda sehingga yang tinggal sekarang hanya 6 (enam) ekor. Di musim Pasang surut  Bono ini pergi menuju betinanya di sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Melaka. Apabila pasang mulai membesar kembalilah mereka ke tempat masing-masing, semakin besar arus pasang semakin gembiralah mereka berpacu memudiki sungai.

Namun Seven Ghost ini sebenarnya adalah ombak yang berderet tujuh ke belakang, apabila kita bisa melihat dari udara, barisan ombak tersusun rapi berjumlah 7 atau lebih. Bermain di Seven Ghost adalah impian setiap peselancar, namun juga harus banyak mempertimbangkan keamanan dan kemampuan.

Gerbang Teluk Meranti DSC_3200
Gerbang Teluk Meranti

Ombak Bono bisa hadir di siang dan juga malam hari, namun saat bulan purnama ombak bono mencapai titik tertinggi. Berhati-hatilah saat bono muncul di siang hari, kapal dan perahu yang sedang berada di sungai diharapkan menghindar dan mencari tempat yang aman, hal yang biasanya dilakukan masyarakat adalah mencari tempat di sungai yang dalam, atau apabila memungkinkan menarik perahu ke daratan agar tidak tergulung oleh ombak Bono.

Bagi penduduk di sekitar sungai Kampar fenomena hadirnya Bono sudah menjadi hal yang biasa, apabila Bono datang, maka halaman rumah merekapun akan banjir, namun tidak menjadi masalah karena rata-rata rumah disini menyerupai panggung, tinggi seperti berlantai dua.

Sebelum tahun 1990an masyarakat yang bernyali besar.menyambut kedatangan Bono dengan memacukan kapal motornya meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar juga, atraksi ini oleh penduduk setempat disebut “Bekudo Bono”, Karena menyerupai atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar.

Lets get it on, Berburu Ombak Bono

Bergegas bangun di pagi hari, suara kipas angin berderu-deru seketika berhenti, yaa berarti sudah pukul 6 pagi, karena disini listrik hanya menyala dari jam 5 sore hingga jam 6 pagi, saya bergegas menuju jendela, menghirup udara pagi, dari sebuah penginapan kayu sederhana, dari jendela ini saya bisa menyaksikan panorama sungai Kampar, matahari terbit, hilir mudik perahu nelayan dan aktivitas pagi penduduk setempat, luar biasa! Hanya kata itu yang bisa saya tuliskan.

Mengejar Bono dimulai BI_9227
Mengejar Bono dimulai

Di lantai bawah kita bisa memesan sarapan sederhana, mie instan, nasi goreng dengan secangkir kopi atau teh, duduk di beranda, sesekali saya mengambil foto-foto para nelayan yang melintas, obrolan santai di pagi hari sambil menyusun rencana mengejar Bono pukul 10 nanti.

Bergabung ke penginapan seberang dermaga tempat para peselancar menginap, sudah ada 4 peselancar warga Negara asing, Matt Smiths, Matt Simpsons, Teiki dan Ugo.

Eddie dengan membawa selembar peta sungai Kampar mencoret garis-garis dengan spidol merah sebagai jaur mana saja yang akan dilewati, arah arus dan letak boat penjemput dan boat pendamping, “Eddie Bono”, seorang pemuda lokal dikenal sebagai driver boat bonosurf, ia sudah sangat hafal dan terlatih membawa para peselancar, mengerti medan dan situasi serta karakteristik Bono, sesaat saya cukup lama memahami penjelasan-penjelasan Eddie, tapi pelan dan pasti saya pelajari kembali peta di hadapan saya dan berbincang-bincang dengan Eddie, jalur mana saja yang akan kami lewati nanti, apa dan bagaimana kondisinya yang akan dihadapi.

Eddie menjelaskan jalur surfing dan arah datangnya Bono DSC_3219
Eddie menjelaskan jalur surfing dan arah datangnya Bono

Perbincangan terhenti, Teiki dan teman-teman bergegas mengambil papan seluncur, Ugo dan duo Matt juga sudah memoles wajah mereka dengan sunblock, karena teriknya matahari akan sangat membakar kulit mereka

Di dermaga dua boat sudah menanti, banyak juga masyarakat yang menyaksikan Kami bersiap menuju Bono. Air mineral, pelampung, kotak kamera sudah dinaikkan ke boat, dua boat meluncur bersamaan. Satu boat dengan driver Eddie membawa para peselancar, saya di boat satu lagi dengan driver Dedi, bersama Marjorie, yang merekam dengan video

Tak sedikitpun saya melepas pandangan, 30 menit terombang ambing di sungai besar dan lebar, langit biru pemandangan indah, seakan tak percaya kalau dengar cerita di sungai ini ada buaya, meringis sesaat mendengar cerita Dedi, Dedi seakan mengerti kekhawatiran saya, dan mengatakan “no problem, buayanya tidak ada di sini”.

Boat melambat dan menepi di daratan, ya di sini kita menunggu datangnya Bono, dan semua nya turun dari boat, jam ditangan masih menunjukkan pukul 10.30, bono hadir 30 menit lagi kata Eddie, duo Matt, Teiki dan Ugo tampak sibuk bercanda dan berbincang sambil di rekam oleh Marjorie, santai dan tenang, berbeda dengan saya, yang masih penuh tanda tanya, apa dan bagaimana nanti kalau Bono datang ….

Keriangan kami terhenti, Eddie bergegas mengajak naik kembali ke boat, dan bersiap mengejar Bono, let’s get it on, teriak eddie. Dari muara / kuala sungai Kampar terdengar suara bergemuruh, terlihat segumpalan buih putih berjajar di coklatnya air di badan sungai, semakin dekat semakin jelas, dua menit saya hanya terdiam melihat setiap detik perubahan yang terjadi, sungguh menakjubkan, baru sekali dalam hidup menyaksikannya, ombak kecil mulai menganyunkan perahu motor kami, sedikit dan kecil berangsur berubah ombak semakin besar.

Dedi mulai memacu boat pelan, ombak semakin dekat hadir di belakang saya. Ya Tuhan, ombak itu besar sekali, dan berada kurang dari 5 meter di depan saya, luar biasa, kamera segera saya keluarkan dari safety box, setiap moment yang terjadi tak lepas dari bidikan kamera, sementara di ujung tepi sungai ombak memecah daratan, pohon-pohon kecil terikut hanyut, pecah dan menghempaskan apa saja yang dilalui bercampur aduk, berkecamuk ada rasa kuatir, ada rasa takjub, ada rasa menguji adrenalin, ya inilah petualangan,bak seorang pengejar ombak, bermain kejar kejaran bersama ombak, ombak datang kamipun berlari, ombak jauh kami nanti kehadirannya

Di kejauhan tampak Eddie menghentikan boat, Teiki turun ke sungai, paddle sejenak, take off dan riding, disusul kemudian oleh Matt Smiths, Eddie membawa , Matt Simpsons, dan Ugo ke titik lainnya, dan sesaat kemudian mereka sudah hanyut dalam permainan kejar mengejar ombak, meloncat, meliuk mengikuti lips reds (ujung ombak yang akan pecah) berselancar riang di ombak Bono.

Tiga jenis ombak yang dikenal dalam dunia berselancar bisa juga ditemukan di sungai Kampar, ombak mellow (ombak pelan), hollow (ombak cepat) dan barrel (ombak yang berbentuk sebuah lingkaran), ketiga jenis ombak ini bergantung pada musim dan bulan tertentu, akhir tahun sekitar bulan September, November atau Desember pada saat musim angin barat biasanya ombak barrel muncul lebih besar.

Berburu Ombak Bono di Teluk Meranti - raiyani DSC_2913
Duo Matt

Dedi terus mencari ombak-ombak aman untuk dilewati, sayapun merasakan bagai dalam wahana permainan di dunia fantasi, terhempas, perut terkocok-kocok,terayun dalam ombak Bono. Dengan posisi menghadap ke belakang, saya terus mengambil moment demi moment, memotret ombak dan para peselancar yang meliuk liuk indah, sesekali peselancar ini terjatuh dan tertinggal di balik ombak besar, dan dengan segera Eddie menjemput kembali.

Berlari lagi mengejar ombak Bono terdepan, tak heran pemandangan boat melayang dan meloncat di ombak menjadi hal yang sangat biasa. Selama lebih dari 1 jam peselancar menikmati setiap ayunan ombak.  Satu jam puas dengan sajian tarian alam, Dedi segera memacu boat membawa kami kembali ke dermaga

Apabila ingin menyaksikan peselancar bermain di ombak Bono, saat ini sudah tersedia pula penyewaan kapal bermotor dengan driver yang berpengalaman, setiba di Teluk Meranti bisa langsung menghubungi pemilik penginapan untuk memesan kapal bermotor.

Pagelaran Seni dan Budaya

Pagelaran Seni Budaya Ma DSC_2519
Pagelaran Seni Budaya

Lelah bermain di Bono siang harinya, malam hari di depan penginapan, di halaman gedung serba guna diadakan pagelaran seni khas kabupaten Pelalawan dari berbagai kecamatan untuk menghibur para peselancar.

Pagelaran seni ini disajikan sebagai bentuk sambutan keramahtamahan masyarakat terhadap para tamu, tak jarang para peselancar inipun menari dan berjoget bersama, aneka pantun, kompang, gendang, lukah gilo, tarian zapin,  belian, silat disajikan apik dan menarik

Hotel di Pangkalan Kerinci

  1. Hotel Unigraha (Bintang 3) , Komplek RAPP, Pangkalan Kerinci
  2. Hotel Fanbinari (kelas Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
  3. Hotel Dikaraya Pratama (kelas Melati), Jl. Lintas Timur Pangkalan Kerinci
  4. Hotel Aini(kelas Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
  5. Hotel Meranti (kelas Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
  6. Wisma Intan Bersaudara, Jl. Dahlia – Pangkalan Kerinci
  7. Wisma Dinda, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci

4 thoughts on “Berburu Ombak Bono di Teluk Meranti”

  1. asiiik mba
    kami dari komunitas blogger bertuah pekanbaru udah dua kali ke bono
    nanti 19 nov 2013 rencananya juga kesana
    sepertinya ombaknya dah mulai besar pd tanggal tsb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *