Odalan Pura Jagakarttya
GRAND Flash Album Gallery
Skins for GRAND FlAGallery, Photo Galleries, Video Galleries
developed by CodEasily.com - WordPress Flash Templates, WordPress Themes and WordPress plugins
The Flash Player and a browser with Javascript support are needed.Odalan Pura Agung Parahyangan Jagatkarttya
Jam ditangan saya menunjukkan tepat pukul 8.00 pagi saat tiba di Pura Agung Parahyangan Jagatkarttya, Senin, tanggal 24 Agustus 2010 pura berulang tahun yang kelima, serangkaian acara Odalan (ulangtahun pura) akan dilaksanakan, yaitu upacara Ngebejian dan Mecaru. Suasana di pura sudah tampak ramai oleh para umat, janur aneka bentuk terlihat menghiasi gerbang dan jalan menuju pura mulai dari nista (pelataran paling bawah dari pura) sampai madya mandala (teras utama pura), kombinasi janur kuning, kain merah dan kotak hitam putih, melilit sepanjang tangga menuju pura/pelinggih/istana utama, terlihat meriah dan indah disertai dengan latar belakang gunung salak yang anggun, langit tampak cerah, langit biru dengan gumpalan awan putihpun menyertai jalannya upacara.
Diawali dengan upacara Ngebejian, beji= air, yang diartikan sebagai mandi, simbolisasi membersihkan pura, air yang digunakan telah diambil beberapa hari sebelumnya yang berasal dari mata air di kaki gunung salak, upacara berlangsung di Petirtaan yang berlokasi di belakang pura utama, dipimpin langsung oleh Jero Mangku Gede Darsa. Satu demi satu tampak keluar dari pura para pengayah (pengurus pura) berpakaian putih bersih pembawa pasepan/dupa, dupa bentuk simbol api, penerang / cahaya untuk memberi semangat, dibukakan pintu terang selama dalam perjalanan menuju petirtaan, barisan berikutnya diikuti oleh umat yang membawa umbul-umbul berwarna putih simbol untuk timur, merah untuk selatan, kuning untuk barat, hitam untuk utara, simbolisasi meruwat bumi, barisan selanjutnya diisi oleh kaum ibu berkebaya putih yang mengusung aneka sesajen bunga, buah, lipatan kain sebagai persembahan bagi dewa dan dewi, dideretan akhir diikuti oleh kaum pria yang memainkan gamelan Bali sebagai beleganjur, musik gamelan yang dilantunkan sepanjang acara bertujuan sebagai pendorong semangat untuk mengangkat sipat rajas. Suasana ceria dan bahagia terpancar dari para umat sepanjang perjalanan menuju petirtaan yang berada sekitar 1 kilometer di sekitar komplek pura. Jalan menanjak yang dilalui begitu terasa singkat, karena saya begitu tertarik menyaksikan proses tersebut, tidak sedikitpun terlihat wajah lelah dari para rombongan.
Setibanya di depan gerbang petirtaan, upacara dilakukan sebagai bentuk mensucikan kaki/ diri sebelum memasuki petirtaan, setelah itu, satu demi satu umat masuk dan duduk berjajar menghadap tempat air suci diletakkan, prosesi ini berlangsung selama 45 menit, acara di akhiri dengan membawa dua buah air suci, 1 buah nanti akan di letakkan di padma (utama mandala) sebagai air suci (tirta amerta) dan 1 buah lagi untuk umat sebagai berkah untuk kesucian dan kesejahteraan
Kemudian rombongan umat kembali ke madya mandala, dan disambut dengan tari-tarian sebagai ungkapan kegembiraan, dan rombonganpun langsung menuju utama mandala /pelinggihan/istana untuk bersembahyang
Selesai melakukan sembahyang di pelinggihan, rombongan umat kembali ke madya mandala, tampak prosesi mecaru sudah siap dilakukan, para perande=pendeta sudah duduk ditempatnya sambil melakukan persembahyangan menjelang mecaru di mulai, upacara mecaru ini dimaksud adalah untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam lingkungannya), mecaru diawali dengan pemberian prayasyita, air berkah bagi umat yang akan bersembahyang, pensucian sesajian, kemudian setelah bersih maka upacara sembahyangpun segera dimulai, bunyi petasan tiba-tiba memecah keheningan, kurang lebih 10 kali petasan di ledakan, bunyi-bunyian ini dimaksud memanggil makhluk-makhluk gaib yang negatif untuk bersama-sama bersembahyang agar berubah baik dan benar, untuk kehadiran mereka disediakan aneka sesajen, makanan berupa hewan, antara lain, ayam, bebek, asu/anjing yang diarahkan ke 4 penjuru mata angin. Terlihat umat sangat hikmad menjalani serangkaian upacara mecaru yang berlangsung setengah jam, mecaru diakhiri dengan tarian jauk, sebagai tari pengrancab caru, bentuk instruksi bahwa upacara sudah selesai, maka pulanglah makhluk-makhluk gaib yang negatif dan berubahlah menjadi lebih baik, dan manusia serta lingkungan menjadi aman, sentosa dan damai dari bencana dan kerusakan.
Perjalanan menuju Pura
Keluar Pintu Tol baranangsiang, belok ke kiri jalan Pajajaran memutar balik di Jl. Siliwangi-lawanggintung- jl pahlawan-Empang-Pulo empang-Pancasan-Kiri-Muara-Ciapus-Cikaret-kanan ada Perikanan – terus lewatin mesjid-ikut jalanan kekanan -dipertigaan belok kiri -lurus lagi ada plank pura dikiri- belok kiri jalanan berbatu-
Keluar Pintu Tol baranangsiang –memutari di kebun raya-istana-gereja zebaot-kantor pos-pertigaan Bogor Trade Mal-belok kanan-Pulo empang-Pancasan-Kiri-Muara-Ciapus-Cikaret-kanan ada Perikanan- terus lewatin mesjid -ikut jalanan kekanan -dipertigaan belok kiri -lurus lagi ada plank pura dikiri
Kalo mau naik angkot dari depan Bogor Trade Mall, ambil jurusan ciapus, bilang saja turun di pura, ongkos Rp 5000/orang, lanjutkan dengan ojek Rp 7000 menuju pura
Raiyani Muharramah








